Bank Afghanistan Kehabisan Dolar Sebelum Diambil Alih Taliban

Bank sentral Afghanistan sudah kehabisan banyak sekali cadangan uang tunai dolar AS dalam beberapa minggu sebelum Taliban akhirnya mengambil alih kekuasaan pemerintah resmi.

Hal ini terungkap oleh kelompok donor internasional Afghanistan. Mereka mengatakan bahwa kronisnya cadangan uang tunai di Afghanistan sudah terjadi sebelum Taliban menguasai Kabul.

Laporan dua halaman yang sifatnya rahasia oti ditulis di awal bulan ini oleh pejabat senior ekonomi Internasional untuk lembaga – lembaga, termasuk Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF).

Laporan tersebut mengkritik bagaimana mantan kepemimpinan bank sentral menangani krisis pada bulan – bulan sebelum negara kemudian di tundukkan oleh Taliban, termasuk keputusan melelang sejumlah besar dolar AS dan memindahkan uang dari Kabul ke cabang – cabang daerah.

 “Cadangan FX (valas) di brankas bank sentral di Kabul telah habis, bank sentral tidak dapat memenuhi permintaan uang tunai,” kata laporan itu, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (30/9).

“Sumber masalah terbesar adalah mismanajemen di bank sentral sebelum pengambilalihan Taliban,” tambahnya.

Shah Mehrabi sebagai Ketua Komite Audit Bank Sentral membela tindakan bank sentral. Ia berkata bahwa pihaknya sudah berusaha untuk mencegah larinya mata uang lokal Afghanistan.

Saat ini, melandainya uang tunai bisa dilihat pada ruang jalan beberapa kota di Afghanistan, orang – orang harus mengantre berjam – jam untuk menarik tabungan dolar di tengah batasan ketat berapa besar uang yang bisa mereka tarik.

Bahkan, sebelum Pemerintah Afghanistan yang didukung oleh AS runtuh, ekonomi negara tersebut sudah kembang kempis. Kondisi ini pun lalu diperparah dengan kembalinya Taliban.

Lenyapnya miliaran dolar bantuan asing sudah meninggalkan Afghanistan dalam krisi mendalam. Saat ini, harga pangan pokok seperti tepung juga melonjak tinggi, sementara pekerjaan mengering membuat jutaan orang menghadapi potensi kelaparan seiring mendekatnya musim dingin.

Di bawah pemerintahan sebelumnya, bank sentral Afghanistan disebut mengandalkan pengiriman uang tunai sebesar US$249 juta setiap 3 bulan dalam kotak – kotak berisi uang pecahan US$100 dan disimpan di brankas bank sentral dan istana presiden.

Ditariknya bantuan asing membuat uang dolar mengering. Bank sentral, yang memainkan peran kunci di Afghanistan karena mendistribusikan bantuan dari negara-negara seperti Amerika Serikat, mengatakan bahwa pihaknya telah menyelesaikan rencana memenuhi kebutuhan mata uang asing negara itu. Namun, tak ada rincian dari rencana tersebut.