Kita sudah cukup lama disuruh “memperbaiki diri”. Ikut pelatihan kepemimpinan, public speaking, cari mentor. Tapi kok, posisi puncak itu masih terasa jauh aja, ya? Seolah ada dinding kaca yang nggak keliatan. Gimana kalau tahun depan kita ganti strategi? Bukan lagi soal jadi lebih baik, tapi soal main cerdik. Main seperti di Queen’s Gambit: mengorbankan bidak kecil untuk menguasai papan.
Ini bukan tentang menjadi pria. Ini tentang menjadi pemain strategis yang tahu caranya berkuasa. Siap?
Power Move #1: Kuasai “Shadow Organization”
Kamu tahu, struktur formal di perusahaan cuma kulit luarnya. Yang bener-bener nerjunin kapal itu jaringan informalnya—alias shadow organization. Ini tentang siapa yang deket sama bos, siapa yang really megang kendali proyek, siapa yang diandalkan saat krisis.
Contohnya Gita, Senior Manager di fintech. Dia sadar nggak akan naik pangkat cuma lewat KPI doang. Jadi, dia sengaja membangun aliansi dengan kepala divisi IT dan Marketing. Bukan lewat meeting formal, tapi lewat obrolan santai sambil makan siang atau ngopi. Hasilnya? Saat ada proyek besar, namanya yang selalu muncul karena dia punya dukungan dari orang-orang kunci. Dia main di belakang layar sebelum bahkan ada lowongan.
Kamu harus petain ini. Siapa yang pengaruhnya kuat, lalu jadilah sekutu mereka.
Power Move #2: Berhenti Mengejar “Pekerjaan Rumah”, Mulutlah “Proyek Visibilitas Tinggi”
Kita sering terjebak menyelesaikan “pekerjaan rumah”—tugas administratif, rapat rutin, yang membuat kita sibuk tapi tidak terlihat. Itu jebakan.
Ambil contoh Maya, tim kreatif di agency. Daripada hanya mengerjakan brief yang diberikan, dia aktif mengajukan proposal untuk proyek yang dia tahu akan dipresentasikan ke klien besar. Meski risikonya tinggi, kegagalannya pun akan terlihat sebagai inisiatif berani. Dan saat berhasil? Semua orang, termasuk direktur, liat. Dia nggak lagi cuma “mengerjakan”, tapi “membawa hasil”.
Tanya dirimu: Dari 10 tugasmu, berapa banyak yang benar-benar dilihat oleh decision maker? Kalau jawabannya sedikit, waktunya geser fokus.
Power Move #3: “Weaponize” Keahlianmu, Jangan Cuma Jadi “Orang yang Bisa Diandalkan”
Punya keahlian itu bagus. Tapi itu cuma jadi alat kalau nggak dipakai buat negosiasi. Keahlian harus jadi senjata untuk membuka pintu.
Lihat saja kata kunci “strategi wanita” di sini. Strategi wanita 2025 adalah tentang berani menukar keahlianmu dengan sesuatu yang berharga. Seperti Riri, ahli data yang langka di perusahaannya. Saat ada proyek transformasi digital, dia nggak serta merta membantu. Dia bilang, “Saya bisa memimpin inisiatif ini, dengan syarat saya dapat kursi di tim steering committee.” Hasilnya? Dia dapat jabatan Head of Data Analytics, bukan sekadar anggota tim.
Jangan mau jadi “orang yang bisa diandalkan”. Jadilah “orang yang tidak bisa digantikan” dan paksa mereka untuk memberimu kekuasaan.
Jangan Sampai Terjebak Kesalahan Ini
- Mencari Mentor Terlalu Banyak: Mentor itu bagus, tapi yang lebih penting adalah sponsor—orang yang berani mempertaruhkan reputasinya untuk mendorongmu naik. Banyak wanita dapat nasihat, tapi sedikit yang dapat advokat.
- Terlalu Fokus pada Persiapan: Nunggu sampai merasa 100% siap baru berani maju. Itu ilusi. Lihat lowongan yang butuh 10 kualifikasi, pria biasa apply walau cuma punya 5. Kamu? Yang punya 7 aja masih ragu. Stop itu. Asal punya 60%, lempar saja namamu.
- Menghindari Konflik: Takut dikira “kejam” atau “terlalu ambisius”. Padahal, kepemimpinan itu tentang membuat keputusan tak populer. Belajar lah untuk nyaman dengan ketidaknyamanan. Bilang “tidak”. Berdebat. Itu tanda kamu punya prinsip.
Intinya, glass ceiling itu tidak akan pecah hanya karena kita menjadi lebih kompeten. Itu pecah karena kita berhenti meminta izin dan mulai mengambil kursi di meja itu. Strategi wanita masa kini adalah permainan catur, bukan lari marathon. Ini tentang visibilitas, aliansi, dan klaim kekuasaan.
Jadi, bidak mana yang akan kamu gerakkan hari ini?