Soft Feminism: Gaya Hidup Wanita yang Lebih Sadar dan Realistis di 2025

Soft Feminism: Gaya Hidup Wanita yang Lebih Sadar dan Realistis di 2025

Kamu pernah nggak sih ngerasa kecapekan sendiri? Disuruh jadi “wanita kuat”, “boss babe”, produktif 24/7, sambil tetep bisa ngurus rumah, tampil flawless, dan selalu punya opini cerdas tentang isu sosial. Duh. Jadi wanita jaman sekarang kayaknya harus punya superpower, ya.

Tapi ada sesuatu yang berubah. Perlahan, banyak dari kita mulai nanya: Emangnya gue harus jadi superwoman demi pembuktian? Dan jawabannya, buat banyak perempuan di 2025, adalah “Nggak.”

Masuklah Soft Feminism. Ini bukan feminism yang lembek atau mundur. Ini feminisme yang udah dewasa. Yang ngerti bahwa kekuatan beneran itu bukan dari bisa melakukan segalanya, tapi dari berani memilih—dan berani nggak melakukan hal-hal yang bikin kita hancur.

Soft Feminism itu bentuk kedewasaan emosional. Di mana kita punya hak untuk bilang “capek,” untuk memilih damai, dan mendefinisikan sukses dengan ukuran kita sendiri. Bukan ukuran media sosial atau bahkan ukuran feminisme generasi sebelumnya yang kadang, tanpa disadari, juga menuntut kesempurnaan.

Kenapa “Lembut” Justru Jadi Kekuatan Baru?

Karena generasi sebelumnya berjuang keras buat buka pintu. Supaya kita bisa masuk ke ruang rapat, punya karir cemerlang, punya suara. Tapi begitu kita masuk, ternyata di dalamnya juga penuh tekanan baru. “Harus lebih kompetitif dari laki-laki.” “Jangan tunjukkan kelemahan.”

Nah, Soft Feminism nggak mau lagi main di tekanan itu. Fokusnya bergeser ke keberlanjutan dan kemanusiaan. Sebuah riset kecil di komunitas digital (2024) menunjukkan 7 dari 10 wanita usia 25-40 merasa lebih lega ketika membiarkan diri “tidak produktif” di akhir pekan, dibanding memaksakan diri mengikuti kursus atau side hustle.

Kata kuncinya di sini: batasan sehatempati diri, dan kebebasan mendefinisikan. Itu tiga pilar utamanya.

Ini Bukan Teori: Tiga Wajah Soft Feminism di Sekitar Kita

  1. Maya, 30, Lawyer.
    Dulu, Maya bangga bisa kerja 70 jam seminggu dan menang banyak kasus. Prestisenya tinggi. Tapi anxiety-nya juga tinggi. Sekarang, setelah adopt Soft Feminism, dia nego untuk kerja hybrid, tolak kasus yang bikinnya harus begadang terus-terusan. “Sukses buat gue sekarang bukan jadi partner termuda, tapi punya waktu baca buku buat anak sebelum tidur. Itu kebebasan mendefinisikan sukses versi aku, dan itu nggak mengurangi pencapaianku sama sekali.”
  2. Bunga, 27, Freelancer Digital.
    Bunga sering merasa gagal karena teman-temannya pada “hustling” dan punya startup. Dia cuma ingin ngerjain proyek yang dia suka, cukup buat hidup, dan punya waktu buat rawat kucingnya dan nonton drama Korea. “Aku sadar, aku nggak harus punya misi mengubah dunia. Bahagia dengan hidup yang sederhana dan penuh kesadaran—itu juga bentuk perlawanan terhadap tuntutan untuk selalu lebih. Aku sekarang praktikin empati pada diri sendiri.”
  3. Ibu Rina, 45, Ibu Rumah Tangga & Part-time Writer.
    Selama ini, narasi “ibu rumah tangga” sering dianggap nggak sejalan dengan feminisme. Tapi Ibu Rina membaliknya. “Feminisme memberiku pilihan. Aku memilih fokus mengasuh anak saat mereka kecil, sambil tetap menulis di blog. Sekarang, Soft Feminism membantuku melihat itu bukan kemunduran. Aku menetapkan batasan sehat: aku nggak akan merasa bersalah karena nggak ikut arisan atau ngejar karir penuh waktu. Pilihanku ini sadar dan realistis.”

Gimana Mulai Menerapkannya? Tips yang Bisa Langsung Dilakukan

Ini nggak butuh deklarasi besar. Bisa mulai dari hal kecil.

  • Audit Tuntutanmu. Tulis, dari mana aja tuntutan yang kamu rasakan? Orang tua, media sosial, atasan, atau diri sendiri? Circle yang berasal dari eksternal dan nggak selaras dengan nilai hidupmu—itulah yang perlu kamu kroscek ulang.
  • Latih Kalimat “Ini Cukup Baik”. Nggak semua project harus perfect. Nggak semua acara keluarga harus kamu urus. Empati diri dimulai dari membiarkan beberapa hal hanya “cukup baik”.
  • Redefine “Produktif”. Istirahat itu produktif. Melamun itu produktif buat kesehatan mental. Nonton film favorit buat isi ulang energi juga produktif. Cabut dari standar lama.
  • Praktikkan “No” yang Lembut Tapi Tegas. “Maaf, aku nggak bisa ikut project tambahan ini, jadwalku sudah penuh.” Kalimat itu sudah lengkap. Nggak perlu alasannya panjang lebar dan bertele-tele.

Hati-hati, Jangan Sampai Salah Kaprah

Dalam perjalanan menerapkan Soft Feminism, ada beberapa jebakan umum:

  • Menganggap “Soft” Artinya Pasif atau Menyerah. Sama sekali bukan. Ini adalah aksi memilih dengan sangat sadar. Butuh keberanian yang besar untuk melawan arus dan bilang “cukup”.
  • Menggunakan Konsep Ini untuk Menghindar dari Tanggung Jawab. Tetap aja, kita hidup di dunia nyata yang punya tanggung jawab. Soft Feminism bukan alasan buat jadi tidak accountable.
  • Merasa Lebih Superior. “Aku soft, kamu toxic.” Hati-hati, jangan sampai gerakan yang intinya empati malah jadi alat menghakimi pilihan perempuan lain. Kebebasan mendefinisikan itu untuk semua.
  • Mengabaikan Isu Sistemik. Soft Feminism fokus pada personal, tapi bukan berarti kita tutup mata sama ketidakadilan sistemik seperti kesenjangan upah atau kekerasan berbasis gender. Keduanya bisa berjalan beriringan.

Intinya: Kekuatan Ada di Tangan Kita

Soft Feminism di 2025 ini adalah suara kecil yang pelan tapi pasti. Suara yang bilang, “Kamu nggak perlu terbakar untuk menerangi jalan orang lain.” Ini tentang menemukan cara hidup yang berkelanjutan, penuh kesadaran, dan manusiawi. Di mana ukuran kemenangan adalah kedamaian dalam diri, bukan piala di dinding.

Kamu, sudah siap memberi diri sendiri izin untuk menjadi “lembut” dan kuat pada saat yang bersamaan?